A. PERLAKUAN TANAH PRAKONSTRUKSI

Perlakuan tanah pra kontruksi adalah pembentukan lapisan kimiawi  pada tanah lantai dan pondasi bangunan  agar tidak dapat ditembus rayap tanah.   Dengan demikian pada prinsipnya pelakuan tanah  akan memisahkan antara bangunan gedung dengan koloni rayap yang hidup di sekitar bangunan.

Di samping perlakuan tanah, pengendalian rayap pra konstruksi  juga ditambahkan dengan perlakuan kayu. Perlakuan kayu dapat dilakukan melalui proses yang sangat sederhana, yaitu dengan penyemprotan termitisida pada permukaan kayu, pencelupan, perendaman, sampai dengan teknologi yang lebih maju dengan teknik pengawetan vakum tekan.   Teknik pengawetan kayu dengan vakum tekan hanya dapat diaplikasikan di industri pengawetan kayu yang memiliki instalasi vakum tekan.

Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan pada pengendalian bahaya serangan rayap pra konstruksi adalah tipe konstruksi bangunan gedung, kondisi tapak bangunan, potensi bahaya serangan rayap, dan kualitas material khusus  kelas awet kayu yang digunakan.   Oleh karena itu sebelum pelaksanaan perlakuan tanah, para teknisi pengendali rayap disamping harus mengumpulkan informasi mengenai potensi bahaya rayap dimana bangunan gedung didirikan juga akan mempelajari  gambar rencana konstruksi bangunan dan kondisi tanah tapak bangunan.

Pelaksanaan perlakuan tanah dapat dibedakan berdasarkan tipe konstruksi bangunan.   Pada bangunan-bangunan yang sederhana yang tidak dilengkapi slab beton bertulang perlakuan tanah dilakukan dengan beberapa  tahap kegiatan, yaitu:

  1. Perlakuan tanah pondasi

Perlakuan tanah pondasi dilakukan pada dasar parit pondasi, tanah urugan dan tepi-tepi pondasi serta pada bagian kiri-kanan dinding  sepanjang pondasi.   Konsentrasi dan dosis aplikasi termitisida sangat tergantung pada produk termitisida yang digunakan.   Setiap produk termitisida akan mencantumkan konsentrasi yang dianjurkan, yaitu perbandingan antara larutan termitisida denga pelarutnya.  Secara umum tahapan perlakuan pondasi adalah sebagai berikut:

penye

Penyemprotan Dasar Parit

das

  1. Setelah parit pondasi selesai digali, dasar parit disemprot larutan termitisida larutan termitisida per meter panjang pondasi (Gambar 1).
  2. Setelah pondasi tersusun dan pengurugan mencapai setengahnya dilakukan penyemprotan tanah urugan (back fill) di kedua sisi pondasi. Jumlah larutan semprot pada masing-masing sisi 5 liter larutan  termitisida per panjang pondasi (Gambar 2).
  3. Setelah parit pondasi berikut balok pondasi diurug dan dinding bangunan telah dibuat, pada kedua sisinya disemprotkan larutan termitisida (Gambar 3).  Penyemprotan seringkali dilakukan setelah bagian atas bangunan telah ditutupi atap atau umumnya menjelang dilakukan penyemprotan tanah yang akan ditutupi lantai.

dasar
Gambar 2.  Penyemprotan Tanah Urugan

parit

Gambar 3. Penyemprotan Bagian Kiri Kanan Dinding

B. Penyemprotan Tanah Yang Akan Ditutupi Lantai

Penyemprotan tanah yang akan ditutup lantai dilaksanakan secara merata.   Apabila atap bangunan belum dibangun, segera setelah selesai penyemprotan, tanah harus terlindung dari hujan atau paparan sinar matahari langsung.Tidak dibolehkan mengurug kembali tanah yang telah diberi perlakuan, jika terpaksa diperlukan tanah urugan harus diberi perlakuan terlebih dahulu.

C. Penyemprotan Bagian Lain

Di samping bagian pondasi dan tanah di bawah lantai beberapa bagian bangunan yang penting mendapat perlakuan tanah secara khusus adalah bagian-bagian pipa saluran instalasi dan drainase yang masuk dan keluar bangunan yang ditanam di bawah tanahagar tidak di pergunakan sebagai jalan masuk rayap ke dalam bangunan. Demikian pula pada bagian tanah yang bersentuhan dengan bagian teras dan tangga masuk perlu diberi perlakuan tanah.

Pelaksanaan perlakuan tanah sedikit berbeda pada tipe bangunan yang dilengkapi slab atau pondasi beton bertulang.  Pada bangunan dengan pondasi beton bertulang beberapa tahapan pelaksanaan perlakuan tanah tidak diperlukan, yaitu penyemprotan dasar parit pondasi, tepi-tepi pondasi dan tanah urugan pondasi.   Penyemprotan hanya dilakukan pada bagian kiri kanan dinding pondasi dan tanah yang akan ditutupi lantai.   Adanya slab atau pondasi beton bertulang merupakan penghalang fisik yang cukup memadai untuk menghambat masuknya rayap ke dalam bangunan gedung.   Metode perlakuan tanah ini populer dikenal sebagai  metode kimia konstruksi (metode khemek).

Pada bangunan yang memiliki lantai pelat beton bertulang (earth slab) dengan tebal lebih dari 12 cm tidak diperlukan penyemprotan tanah di bawah lantai, perlakuan kimia tanah dilakukan pada:

  • Pada bagian tepi pondasi.
  • Pada bagian celah atau dilatasi yang terdapat pada lantai bangunan
  • Bagian pipa saluran instalasi dan drainase yang masuk dan keluar bangunan yang ditanam di bawah tanah, harus diselubungi tanah anti rayap, agar tidak di pergunakan sebagai jalan masuk rayap ke dalam bangunan.

 PERLAKUAN TANAH PASCA KONSTRUKSI

Seperti halnya pengendalian bahaya rayap pra konstruksi, pengendalian bahaya rayap pasca konstruksi masih bertumpu pada pengendalian secara kimiawi yaitu dengan pemaparan termitisida melalui perlakukan tanah pasca konstruksi.  Di pihak lain, telah sejak lama masyarakat menyadari akibat-akibat buruk penggunaan termitisida atau akibat pencemaran yang diakibatkan oleh residu termitisida yang digunakan dalam pengendalian bahaya rayap.   Masalah ini akan terus-menerus  muncul, namun tak dapat disangkal bahwa  termitisida adalah merupakan  salah satu komponen penting dalam pengendalian bahaya rayap yang memiliki sisi keuntungan (mixed blessing; sifak baik dan buruk).   Bahkan selama belum ditemukannya cara-cara lain yang dianggap efisien, demi terlindunginya bangunan dalam jangka waktu yang lama maka  aplikasi termitisida  merupakan pilihan yang paling tepat.

Sebelum pelaksanaan pengendalian bahaya serangan rayap pasca konstruksi sangat penting untuk dilakukan pemeriksaan serangan rayap, pengkajian gambar bangunan gedung, dan kondisi lingkungan bangunan gedung.   Ketiga faktor tersebut adalah mutlak menentukan teknologi pengendalian bahaya serangan rayap yang paling tepat untuk diaplikasikan.   Kegiatan pemeriksaan serangan rayap  ditujukan untuk menggali informasi mengenai kondisi bangunan gedung, karakteristik lingkungan, dan karakteristik rayap yang menyerang bangunan gedung.   Sangat penting bagi surveyor untuk dapat menentukan tingkat keparahan serangan rayap pada bangunan gedung,  mengidentifikasi jenis rayap yang menyerangnya, dan titik lokasi serangan rayap pada bangunan gedung serta menganalisis faktor-faktor lingkungan yang mendukung terjadinya serangan rayap pada bangunan yang diamati.

Pengetahuan teknis dan pengalaman diperlukan untuk menentukan adanya serangan rayap di dalam suatu bangunan, khususnya ketika serangan masih pada tingkat awal,  mengingat rayap senang sembunyi, menjauhi sinar dan gangguan (kriptobiotik).  Sebagai contoh, rayap akan membentuk liang-liang kembara yang tertutup tanah ketika memasuki daerah yang terbuka sehingga serangga ini tidak mudah terlihat dan terdeteksi. Oleh karena itu, surveyor membutuhkan pengetahuan mengenai :  tempat hidup rayap, cara rayap menyerang bangunan, tempat-tempat yang disenangi rayap, dan tanda-tanda serangan rayap.

Bagian-bagian yang perlu diamati pada bangunan gedung sebagai daerah yang rawan serangan rayap adalah:

  1. Bagian elemen/komponen yang berhubungan atau berdekatan dengan tanah, misalnya lantai, anak tangga, rabat dan teras.
  2. Bagian elemen/komponen yang berhubungan dengan bagian gedung milik pihak lain, misalnya dinding batas pada
  3. Bagian elemen yang gelap atau lembab, misalnya shaft, gudang, kamar mandi, WC, plumbing, ujung-ujung saluran pipa listrik, telepon atau tempat-tempat lain.
  4. Bagian elemen/komponen yang terbuat dari kayu pada lantai panggung dinding, langit-langit dan atap.
  5. Tempat pemasangan kabel listrik, kabel telepon, pipa air dsb.
  6. Panel-panel kayu, tangga, hiasan-hiasan pada dinding langit-langit dan bagian-bagian gedung lainnya yang menggunakan kayu.

 

Tahapan pelaksanaan perlakuan tanah pasca konstruksi secara umum adalah sebagai berikut:

A. Pengeboran Sepanjang Pondasi.

Pengeboran sepanjang pondasi dilakukan dengan jarak antar lubang pengeboran 30-40 cm. Umumnya dilakukan 10 cm dari dinding pondasi pada nat atau celah antar lantai.   Diameter mata bor tidak lebih 10 mm.

        denah

                                          Denah Pengeboran Pada Bangunan Gedung

denah2

Pengeboran dilakukan pada bagian kiri dan kanan pondasi dengan kedalam pengeboran hingga mata bor menyentuh tanah permukaan di bawah lantai sehingga termitisida dapat menyebar dengan baik pada saat dilakukan injeksi. Pada dinding bangunan gedung yang retak atau berdempetan dengan dinding bangunan lain perlu dilakukan pengeboran arah horizontal

bor

                                                       Pengeboran Pada Bagian Dinding

B. Injeksi Termitisida

Injeksi termitisida pada setiap lubang pengeboran dilakukan dengan tekanan tinggi sehingga termitisida dapat menyebar merata di permukaan tanah dan saling bersambungan dengan termitisida yang diinjeksikan pada lubang lainnya.  Untuk menjamin lapisan termitisida yang saling bersambungan,  dosis aplikasi atau banyaknya termitisida yang disemprotkan dan jarak pengeboran memberikan pengaruh yang cukup penting.

Perlakuan tanah dapat juga dilakukan pada bagian luar bangunan sepanjang bagian yang tertutup struktur seperti, rabat, teras dan lain-lain atau dengan membuat parit dengan jarak 0.10 meter dari dinding dan dalamnya 0.30 meter, yang kemudian pada lubang parit dan tanah galian tersebut disemprotkan cairan termitisida. Cara dengan pembuatan parit ini dilakukan pada tempat yang tidak terlalu jauh (+ 5 meter) dari sumber air yang tertutup.

Setelah injeksi termitisida dilakukan, lubang bekas pengeboran ditutup kembali hingga kembali ke kondisi sebelumnya.

C. Teknik Pengumpanan

Pengendalian bahaya rayap dengan teknologi pengumpanan memiliki pendekatan yang berbeda dengan perlakuan tanah.   Perlakuan tanah berfungsi untuk memberikan penghalang kimia di bawah bangunan gedung sehingga rayap yang ada di sekitar bangunan tidak dapat memasuki bangunan gedung.  Dengan demikian pada perlakuan tanah, koloni rayap tetap hidup di sekitar bangunan gedung dan kecil kemungkinannya koloni mengalami kematian akibat perlakuan tanah yang mengalami kematian umumnya terbatas pada anggota-anggota koloni yang terpapar langsung oleh termitisida yang disemprotkan.   Sementara itu teknologi pengumpanan bukan merupakan penghalang kimia.   Pengumpanan  berfungsi untuk membunuh koloni rayap di sekitar bangunan gedung hingga lingkungan bangunan gedung terbebas dari ancaman kerusakan.

Teknologi pengumpanan merupakan teknologi  pengendalian rayap yang populer saat ini karena terdapat beberapa kelebihan dibandingkan teknologi perlakuan tanah.   Teknologi pengumapan tidak menggunakan termitisida cair yang dipaparkan diatas permukaan tanah sehingga tidak mencemari lingkungan dan tidak berpotensi membunuh organisme non target, tidak diperlukan pengeboran lantai bangunan sehingga kondisi bangunan tidak mengalami kerusakan, disamping itu teknologi ini sangat aman dan tidak mengganggu aktivitas penghuni bangunan gedung.

Metode pengumpanan pada prinsipnya menggunakan sifat biologis rayap  yaitu sifat tropolaksis dan grooming dalam mendistribusikan racun pada anggota koloninya.  Oleh karena bahan aktif yang digunakan haruslah bersifat slow action sehingga menjamin tersebarnya racun kepada seluruh anggota koloni.                   

    dor

D.Wood  Injection      : Penyuntikan pada lubang-lubang kayu.selain mengenddalian rayap juga bisa mengendaalian kumbang kayu

wood